Antalogi Puisi “Merindu Rasul dalam Sajak”

Standard

antalogi puisi 1

Penulis: Septia Khoirunnisa, Rani Irani Safari, Ayuni Adesty dkk.

Penerbit: Seruni

Tanggal Terbit: Juni 2012

Jumlah Halaman: 116

ISBN: 978-602-18155-7-1

Endorsement:

Dia telah melepaskan dunia dan tidak mempedulikannya. Dia adalah penghuni dunia yang paling kurus dan paling sering lapar. Telah ditawarkan padanya dunia, namun dia enggan menerimanya. Dia mengetahui bahwa Allah tidak menyukai sesuatu, maka dia pun tidak menyukainya. Dia berpaling dari dunia dengan hatinya, mematikan ingatan dunia dari dalam jiwanya dan menyukai hilangnya hiasan dunia dari pandangannya, agar dia tidak menjadikan perhiasan darimnya, menganggapnya kekal dan mengharapkan kesempatan darinya. Maka dia keluarkan (cinta) akan dunia dari jiwanya,dia enyahkan hal itu dari hatinya. “Sungguh keutamaan Rasulullah tiada dibatasi dengan batas yang dapat diungkapkan mulut manusia.” The true idola.

(Selfiati Nusantara, Novelis. Ketua Umum GPN)

Untuk mendeskripsikan sosok “Muhammad” rasanya perlu literature khusus terlebih menuangkannya dalam sajak, dahaga kerinduan itu belum ‘terbayar tunai’ dan belum mampu membuat kita puas, mimpi bertemunya adalah satu cita-cita besar. Saya merasakan betapa hebatnya para penulis dalam antalogi ini yang mampu menghipnotis pembaca dan membawanya ke suatu dahaga rindu yang melangit akan sosok ‘The commander’ seperti Rasulullah.

(Hasan Al Bana, novelis ‘Antara Jerman dan Masjidil Haram’)

Advertisements

Komentarnya, Kakak. :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s