Masih Banyak Jalan

Standard

Masih tentang berkarya dalam tulisan. Semakin hari semakin bertumbuh saja hasratku menjadi penulis. Minimal terus berharap memiliki satu buku yang penulisnya adalah diriku sendiri. Gak masalah meskipun masih sebatas antalogi. Seiring berjalannya waktu, aku semakin serius menapaki hobi. Kira-kira awal kuliah aku mulai mencari-cari group kepenulisan di Facebook. Bukan hanya masuk ke group kepenulisan yang aku lakukan, beberapa orang yang sudah lebih dahulu menekuni dunia ini pun gak lepas dari rasa kepoku, pastinya gak lama kemudian mereka aku add. Alhamdulillah dari sekian banyak yang aku add adalah orang-orang yang kompeten dan gak pelit sama ilmu. Seriusly! big thank’s for all (Maaf kalo belepotan, hihihi). Ehm, kalo aku sebutin satu-satu bisa gak kelar-kelar nih tulisan. Mungkin di tulisan selanjutnya InsyaAllah aku bakal bongkar siapa aja mereka. 😉

Oke! setelah rasa kepoku tentang dunia kepenulisan teratasi, aku mulai memberanikan diri untuk mengirim karya ke berbagai lomba. Yang paling berkesan itu waktu ikut lomba cipta puisi di salah satu group FB. Temanya tentang ibu dan bersyukur banget aku menjadi juara 3. Bukan soal hadiah yang gue harapkan dari perlombaan itu. Sure! bagiku hadiah terbesar dari lomba itu adalah semangatku yang semakin bertumbuh untuk terus berkarya. Aku tahu kalo itu bukan perlombaan tingkat nasional, namun yang aku syukuri adalah ketika orang-orang yang membaca puisiku berkomentar dan memberikan like-nya di postingan puisi tersebut. Itu artinya secara gak langsung aku diberi semangat atas apa yang ingin aku capai. Big thank’s lagi untuk kalian 🙂

Gak puas dengan hanya mengikuti lomba itu, aku pun mencoba mengirimkan beberapa puisi ke media. Alhamdulillah, belum ada yang tembus sih :D. Tapi setidaknya aku udah pernah mencoba dan jadinya gak penasaran. Pastinya langsung berkecil hati, karena puisiku gak pernah tembus makanya suatu hari aku mengirimkan karya lain berupa foto tempat wisata yang pernah dikunjungi. Iseng-iseng aja sih itu mah, tapi malah yang iseng-iseng itulah yang akhirnya mejeng di salah satu koran di kota Medan. Tapi yang anehnya adalah aku gak tau apakah aku harus senang atau malah merasa apes. Bayangkan saja, tanpa persetujuanku di bagian info pengirim ada nomor HP-ku. Dan itu yang membuat aku cukup frustasi. Serius! aku mendadak jadi artis sok terkenal. Banyak panggilan masuk ke handphone, belum lagi dengan SMS. Akhirnya dengan berat hati aku harus menggantinya dengan nomor baru.

Setelah kejadian tersebut aku menjadi lebih hati-hati untuk menulis atau menampilkan apa pun ke publik. Cukup trauma juga sih, hahaha! Oke, lebih baik kita skip bagian itu. Lanjut ke cerita yang lebih menarik lagi yaitu di saat aku mulai dekat dengan beberapa orang yang hobi menulis. Tentunya berdampak sangat baik terhadap diriku. Dari mereka aku belajar bagaimana menyempurnakan EYD. Gak hanya itu, aku pun teramat sering menjadi mata-mata di blog mereka atau sekedar membaca karya-karya mereka yang pernah tembus media.

Well, intinya sih aku cuma mau bilang SEMANGAT!!!
Apa pun yang ingin kita capai, maka berusahalah sendiri terlebih dahulu. Jangan sedikit-sedikit bertanya atau mencari yang instan. Minimal kepo diam-diam atau bertanya terlebih dahulu ke Mbah Google, pasti banyak info yang tersebar dari beliau. \^,^/

Quote buatku :
“Masih banyak jalan untuk mewujudkan apa yang ingin kita wujudkan. Tidak ada kata mustahil selama ridho Allah menyertai setiap langkah kita.”

***Asiiiiiiik***

desert_road_hd_widescreen_wallpapers_08

Advertisements

Komentarnya, Kakak. :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s